| Kasih Kekal |
| DATANGLAH KERAJAAN-MU (hal. 1) Jonathan K. Tunggal Sadarkah kita sekalian, di bawah segala kepurukan dan masalah yang dihadapi oleh bangsa ini, bahwa telah timbul tanpa kita sadari suatu “kebudayaan” khas di antara kita sekalian? Ini tak penulis sadari, sampai seorang kerabat di luar negeri mengajukan pertanyaan sebagaimana berikut: “Mengapa setiap kali saya mendengar kabar tentang Indonesia, kabar yang saya dengar dari kalian pribadi adalah kabar-kabar yang selalu mengenaskan dan menakutkan?” Tentunya di dalam hati penulis terbersit rasa tidak percaya akan pernyataan ini. Tetapi untuk beberapa lama penulis mulai memperhatikan percakapan sehari-hari di antara keluarga, anggota masyarakat dan juga, di sarana-sarana media massa. Memang, serasa ada benarnya pernyataan tersebut. Bukankah sudah membudaya di antara kita sekalian, untuk menggerutu dan membeberkan tanpa henti apa yang kita pikirkan sebagai apa yang salah mengenai lingkungan, iklim bisnis, kota kediaman, aparat-aparat keamanan, penegak-penegak hukum, instansi pemerintah, dan bahkan pendeta kita? Bukankah sudah lazim bahwa percakapan antar teman adalah membandingkan mana di antara kita yang sudah mengalami pengalaman yang lebih buruk dan tidak adil dari aparat keamanan? Serasa tidak lega kalau kita tidak keluar dengan sesuatu cerita yang lebih gila. Bahkan yang sangat sering keluar dari pembicaraan adalah tidak sekedar keluhan, tetapi makian dan kutukan terhadap si ini dan si itu, dan yang terutama kepada setiap orang yang memiliki kuasa di atas kita. Mungkin ada yang berpendapat bahwa ini adalah normal dan seharusnya. Kata anda ,”Mengapa tidak? Bukankah negara ini adalah penuh bencana dan masalah? Ini kenyataan di tanah air tercinta ini. Harus jujur, harus transparan, harus penuh kritik. Kalau tidak, bagaimana negara ini bisa maju?” Penulis setuju bahwa tidak dipungkiri negara ini telah dan terus menghadapi krisis demi krisis. Adalah benar juga kalau dibutuhkan sesuatu pergantian radikal di segala bidang agar ada kemajuan drastis yang dapat dialami oleh kita semua. Tetapi, yang saya kuatirkan adalah kebudayaan yang memikirkan siang dan malam hal-hal yang sinis, tragis, sadis, 'ceriwis' dan tidak logis; dan, yang mengenaskan adalah bahwa ini tertuang di dalam kehidupan sehari-hari kita sekalian melalui gerutu, omel, kritik dan sumpah- serapah yang tanpa henti! Mengapa “kebudayaan” ini bisa menjadi masalah bagi umat percaya? Karena Tuhan sangat peduli kepada umat yang percaya kepadaNya dan kepada janji-Nya. Ia sangat terluka bilamana umatNya tidak mempercayaiNya. Salah satu janjNya kepada umat yang dalam kesesakan difirmankan di Yeremia 29: 11: Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Ini adalah janjiNya yang kepada semua yang tertindas. Dengan gerutu yang keluar dari mulut beberapa umat percaya, bukankah janji Tuhan ini seakan-akan diragukan, bahkan tidak dipercayai? Beranikah kita sekalian untuk tidak percaya akan janjiNya? Juga, apakah dampak yang mungkin keluar dari ketidak-percayaan dan hati yang selalu bersungut-sungut? Murka Tuhan! Bilangan 14: 36-37 Adapun orang-orang yang telah disuruh Musa untuk mengintai negeri itu, yang sudah pulang dan menyebabkan segenap umat itu bersungut-sungut kepada Musa dengan menyampaikan kabar busuk tentang negeri itu, orang-orang itu mati, kena tulah di hadapan TUHAN. Tentunya bukan maksud penulis untuk mengharapkan bencana kepada siapapun, tetapi marilah kita sekalian menghindari ketidak-percayaan dan gerutu ini, karena sangatlah fatal apa yang bisa terjadi. Dijauhkanlah murka Tuhan dari kehidupan ini. Bukan saja fatal secara jasmani, tetapi yang sangat dikhawatirkan adalah yaitu kegagalan untuk setiap pribadi untuk melihat janji Allah yang sangat indah di dalam setiap kehidupan masing-masing. selanjutnya (hal. 2) Home Artikel |