| Kasih Kekal |
| Menjadi Persembahan Yang Hidup (hal. 1) Jonathan K. Tunggal Di Kitab Bilangan Tuhan memberi ketetapan untuk bangsa Israel untuk mempersembahkan korban bagi-Nya setiap hari (pagi dan senja), setiap sabat (hari Ibadah) dan setiap bulan. Ketetapan-ketetapan ini diberikan secara spesifik dan harus dilaksanakan dengan seksama. Pelayanan ini, yang dilakukan oleh imam-imam dari kaum Lewi, adalah hanya gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga (Ibrani 8: 5) dan tidak dapat menyempurnakan manusia berdosa (Ibrani 9: 9). Datangnya Tuhan Yesus adalah untuk menggenapi semua ini. Dengan matiNya di kayu salib, Dia menjadi korban yang tercurah untuk dosa-dosa kita. Tetapi, Dialah jugalah sekaligus Imam Besar, Perantara Agung, dan bukan orang yang penuh kelemahan, yang melaksanakan ketentuan-ketentuan ini agar kita beroleh pengampunan yang sempurna. Simaklah ayat berikut: Bilangan 7: 26-27 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya. Singkat kata, Tuhan Yesus telah mati berkorban satu kali dan untuk selama-lamanya untuk dosa-dosa kita sekalian. Tetapi, bilamana Ia telah menjadi korban yang sempurna, apakah yang dimaksud dengan Roma 12: 1 yang berkata: Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembah-kan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Bacalah Roma 12 secara lengkap dan mendapatkan penjelasan yang sempurna. Tetapi mengapa kita sekalian masih harus “berkorban” kalau Ia sudah mati untuk kita dan dosa-dosa kita sudah diampuni? Mengapa kita tidak dapat berleha-leha menikmati keselamatan-Nya yang sempurna? Dua ayat berikut memberi penjelasan: Lukas 9: 23 Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Filipi 2: 5-6 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, Umat percaya tidak layak untuk ikut Tuhan Yesus kalau tidak berkorban, menyangkal diri dan memikul salibnya. Tetapi, di persimpangan inilah, banyak orang percaya gentar dan bingung apa yang diperbuat untuk layak diperhitungkan sebagai pengikut Tuhan. Banyak bertanya-tanya apa yang harus diperbuat? selanjutnya (hal. 2) Home Artikel |