Kasih Kekal
                                    Menjadi Persembahan Yang Hidup (hal. 2)
                                                  
Jonathan K. Tunggal

Filipi 2: 12

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,

Pertanyaan yang timbul adalah bagaimana seseorang menjadi korban yang hidup, yang dengan setia mengerjakan keselamatannya? Tuhan Yesus adalah korban yang sempurna. Tetapi marilah kita menyimak beberapa prinsip atau ciri dari persiapan suatu korban.  Kitab
Bilangan 28: 31 berkata:

Selain dari korban bakaran yang tetap dan korban sajiannya, haruslah kamu mengolah semuanya itu, serta dengan korban-korban curahannya. Haruslah kamu ambil yang tidak bercela.

Ciri pertama yang Tuhan minta adalah suatu korban yang tetap. Apakah arti pengorbanan yang tetap? Manusia menuntut agar setiap hal adalah suatu yang istimewa.  Setiap obral, berita, hari, penemuan, makanan selalu juga diperkenalkan seakan-akan semua ini tiada bandingnya. Bahkan di kalangan umat percaya, selalu ada pembicara, persembahan, khotbah, puji-pujian, persembahan lagu yang “spesial”. Apakah semua ini salah? Tentunya tidak. Tuhan senang akan hal-hal yang dipersiapkan dengan tersendiri dan kudus oleh umatNya. Tetapi yang sering diabaikan adalah hal-hal yang tetap. Apakah maksudnya ini? Tuhan mengharapkan dari umatNya puji syukur yang tetap dan tak berkeputusan, baik di waktu kemenangan ataupun waktu tantangan.  Ia mengharapkan doa yang tetap dan pantang menyerah dari orang-orang kudusNya, baik di waktu kelimpahan ataupun kekurangan.  Ia meminta persembahan persepuluhan dan sukarela, yang tetap dan tanpa henti, baik di musim hujan maupun musim kemarau. Ia menantikan cinta kasih yang tetap, baik di waktu suka  maupun duka. Ia mau melihat kesetiaan hamba-hambaNya yang tetap, penuh tanggung jawab dan terpercaya, meskipun karya-karya tersebut di balik layar dan hanya Ia yang tahu. Tetap menaikkan puji syukur, tetap berdoa, tetap memberi persembahan, tetap mengasihi dan tetap setia sampai akhir. Inilah korban yang tetap.

Ciri kedua dari korban adalah semuanya ini harus diolah. Ini menunjukkan bahwa untuk menjadi korban perlu adanya proses, persiapan dan perencanaan. Umat percaya akan melakukan perkara-perkara yang besar, tetapi untuk ini, hidupnya harus diolah. Maukah kita sekalian untuk menanggalkan kehidupan yang lama? Semua serentak untuk mengiyakan ini. Sebentar. Nanti dulu. Benarkah jawaban saudara? Maukah anda yang sehari-harinya adalah majikan, belajar merendahkan hati menjadi seorang hamba? Maukah anda yang bekerja sebagai bawahan, belajar melupakan segala hinaan kritik dan berdiri tegak menjadi Anak Tuhan? Ibu saya selalu mengingatkan untuk berhati-hati bilamana kita meminta untuk “belajar” sesuatu. Ujarnya, sebagaimana contoh, untuk belajar untuk menghasilkan buah roh panjang sabar, janganlah kaget bilamana hari-hari mendatang (mungkin saja, tahun dan dekade yang mendatang kalau kita tidak taat) akan penuh dengan segala alasan untuk gusar. Siapkah kita untuk ini? Bilamana seseorang menolak untuk berubah, tidaklah mungkin ia menjadi suatu korban hidup yang sempurna. Maka daripada itu, siaplah diolah!

Ciri yang ketiga dari suatu korban, adalah ini harus tak bercacat-cela. Tuhan Yesuslah yang tak bercacat-cela. Tetapi karena DarahNya menebus manusia, kita yang dulunya terkutuk untuk masuk dalam kebinasaan, dibenarkan dan dikuduskan. Apakah kita sekarang tanpa cela dan sempurna? Sekarang, tidak. Tetapi, umat percaya, yang mau menjadi korban persembahan yang hidup dan berkenan, sedang, lagi dan akan disempurnakan. Halleluyah!

Matius 5: 48

Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."


Seorang pengikut Yesus haruslah kita memikul salibnya dan mempersembahkan dirinya sebagai persembahan yang hidup. Marilah kita memulai perjalanan ini dengan memberikan hidup kita masing-masing sebagai pengorbanan yang tetap, yang mau  diolah dan yang tak bercacat-cela. 
sebelumnya (hal. 1)

Semua ayat dikutib dari Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI Lembaga Alkitab Indonesia.
Copyright/Hak Cipta © 2006 Kasih Kekal
www.kasihkekal.org.
                                                                 Home   Artikel
Home   Artikel