| Kasih Kekal |
| Kristen Gelandangan (hal. 1) Jonathan K. Tunggal dan David Lie [Percakapan antara dua gelandangan yang lagi berdiri bersebelahan dan antri untuk mendapatkan makanan gratis, dibagikan oleh sebuah truk, di sebuah kota di benua Amerika. Berikut terjemahan bebas yang lebih sopan di dalam bahasa Indonesia] Gelandangan Wanita: Eh, kamu jangan senggol aku!! Gelandangan Pria : Emangnya kenapa? Gelandangan Wanita: Lu kotor! Gua bersih! Gelandangan Pria: Lu bersih? Lu kan juga seperti aku, gelandangan!! (Saksi mengatakan bahwa si pria berkata-kata dengan gigi-gigi yang ompong, mengakibatkan ludah yang tersembur ke sana sini) Gelandangan Wanita: Nggak!!! Pokoknya aku bersih. Kalau nggak percaya, tanya dokterku! Gelandangan Pria: LU punya dokter!??? (Dan tanpa mereka sadari, sukarelawan-sukarelawan yang bertugas menutup pintu truk dan lari sebelum timbul huru-hara) Ketika rekan penulis menceritakan kejadian yang ia saksikan sendiri ini, kami sekalian terbahak-bahak akan kekonyolan peristiwa tersebut. Betapa aneh dan lucunya bilamana dua gelandangan tersebut boleh bercakap-cakap seperti itu! Tetapi, anehnya ketika penulis merenungkannya, percakapan tersebut terasa tidak demikian asing. Kalau kita mau jujur saja, bukankah percakapan antara anak Tuhan sering serupa dengan dua gelandangan ini? Bukankah di antara kita sendiri, antar jemaat, antar gereja ataupun antar sinode, sering membanding-bandingkan “kebersihan” kita yang lebih unggul dibandingkan yang lain? Yang satu mengatakan dirinya lebih kawaklah, lebih bersejarahlah, lebih berkuasa, lebih kudus, lebih penuh urapan, ataupun lebih punya potensi untuk menjadi bibit unggul. Jangan salah mengerti! Di dalam Tuhan memang ada, seperti Elisa, yang lebih diurapi (2 Raja-raja 2: 9) dan ada yang mendapatkan talenta lebih (Matius 25: 15). Yang satu boleh lebih dipakai dengan heran oleh karena Roh Kudus yang boleh bersemayam dan hidup melalui hidupnya. Tetapi, yang ingin penulis usulkan di sini adalah faktanya dibandingkan dengan kemuliaan Tuhan, kita semua masih kelihatan seperti gelandangan-gelandangan, masih penuh kehinaan, masih penuh kelemahan dan kedagingan. Apapun kelebihan satu dari yang lain, skala perbedaannya masih sungguh sangat teramat demikian kecil dibandingkan dengan perbedaan kita dengan Keilahian-Nya. Maka daripada itu, perlu ada sikap yang rendah hati, yang tidak puas dengan keunggulan-keunggulan tertentu, tetapi yang lebih rindu untuk tambah hari tambah dijadikan serupa dengan Allah Roma 8: 29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dari percakapan diatas, yang disayangkan adalah bahwa sukarelawan yang lari tunggang-langgang menghindari dua gelandangan ini, sebelum terjadi percekcokan lebih lanjut. Penulis rasa sangat sering malaikat-malaikat Tuhan, yang diutus untuk melayani kita umat percaya, lari ketika terjadi baku-hantam di antara kita sekalian! Berapa kalikah berkat Tuhan terhambat atau terlewat ketika “senggolan” terjadi? Gesekan antar pribadi pasti ada! Tetapi jangan biarkan singgung-menyinggung yang terjadi tumbuh menjadi kanker yang menggerogot. Biarkan itu menjadi pupuk, meskipun itu berbau, yang dapat membantu pertumbuhan yang sehat bagi kerohanian kita sekalian. selanjutnya (hal. 2) Home Artikel |