| Kasih Kekal |
| SALAM DARI KASIH KEKAL - JANUARI 2007 (Hal. 1) Sdr. sdri. yth, Dengan penuh sukacita Kasih Kekal www.kasihkekal.org mengucapkan Selamat Tahun Baru 2007 kepada anda sekalian. Setiap tahun baru merupakan hal yang sangat menggembirakan bagi kami sekalian karena waktu ini adalah di mana Kasih Kekal merayakan ulang tahunnya yang ke-4. Puji Tuhan! Hanya oleh kemurahan dan kuasa-Nyalah situs ini boleh terus dipakai untuk melayani umat kristiani. Sdr. sdri, ketika saya merenungkan apa yang ingin Tuhan sampaikan bagi kita sekalian, saya diingatkan akan beberapa hal yang disampaikan oleh beberapa sahabat di tahun 2006. Dua orang yang berbeda menceritakan kepada saya, baik berupa lisan maupun tertulis, tentang pengalaman mereka mengunjungi kota Efesus. Mereka menceritakan tentang ayat berikut ini: Yohanes 19: 25-27 Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. Ayat ini ternyata sungguh terjadi karena di Efesus Maria, ibu Yesus, di usia lanjutnya tinggal bersama Yohanes, murid yang dikasihi Yesus itu. Ini bermula dengan penganiayaan orang Kristen di Yerusalem dan semua orang percaya harus mengungsi. Yohanes dan Maria mengungsi ke Efesus. Yohanes sendiri tinggal di kota Efesus dan ia menyembunyikan Maria di sebuah rumah terpencil, di puncak bukit dekat kota itu. Diceritakan bahwa daerah rumah Maria ini sangatlah terpencil. Sangatlah tenang tetapi sahabat saya menceritakan bahwa ia sangat terharu karena ia sendiri akan sangat kesunyian bilamana harus menetap di daerah seperti itu. Lagipula, pastilah ada penderitaan yang sangat mendalam melewati masa-masa tersebut, apalagi jauh dari sanak-saudara, sesama orang percaya dan semua yang ia kenal di Yerusalem. Belum lagi ditambah dengan berbagai ancaman dan penganiayaan yang sungguh amat luar biasa, yang dialami umat percaya di kala itu. Sdr. sdri, saya teringat akan ayat berikut oleh Rasul Yohanes, orang yang terdekat dengan Maria, di Wahyu 1: 9: Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus. Yohanes dan pastilah juga, Maria menceritakan bahwa mereka dalam kesusahan. Kesusahan karena lari dari Tuhan? TIDAK! Tetapi mereka dalam kesusahan dalam ketekunan menantikan Yesus. Sdr. sdri., mereka kesusahan karena ikut Tuhan Yesus! Sdr. sdri, ikut Tuhan Yesus penuh dengan berkat dan sukacita yang tak terhingga. Tetapi sukacita ini, yang tak dimengerti oleh dunia, hanyalah dapat kita alami lewat salib Kristus. Apa maksudnya ini? Dengan sederhana dapat saya jelaskan bahwa kita semua mengalami tekanan dan kesusahan. Tetapi melalui semuanya ini, kita lari menghadap kepada Kristus saja. Melalui hidup bersama Dia, bumi boleh bergonjang-ganjing, tetapi kita akan terus keluar sebagai lebih dari pemenang. Bukannya dengan ini saya ingin dan merasa kuat untuk menderita bagi Kristus, tetapi saya mulai belajar mengerti bahwa ada harga yang harus dibayar untuk menjadi pengikut Kristus. Mengapa saya mencurahkan hal-hal ini kepada anda sekalian? Saya hanya rindu supaya kita sekalian boleh belajar dari hidup Maria dan Yohanes supaya kita kuat, tekun melewati tekanan yang ada dan kita boleh terus setia sampai akhir. Bagaimana mereka menghadapi semua ini? Berikut beberapa hal yang saya dapatkan dari hidup mereka: Di surat-suratnya kepada 7 jemaat, Rasul Yohanes berpesan demikian: 1] “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat." Wahyu 2: 29 Kita sekalian harus belajar membuka hati lebar-lebar kepada Roh Kudus dan mendengarkan serta mengerti dengan jelas tuntunan-Nya. Selanjutnya... Home Artikel |