| Kasih Kekal |
| BANJIR - BENCANA ATAU BERKAT? (Hal. 1) Beberapa waktu yang lalu, kota Jakarta mengalami musibah air banjir. Akibat dari banjir tersebut telah dilaporkan dan disaksikan. Mengapa itu bisa terjadi sudah ditelaah secara menyeluruh. Reaksi dan cara penanggulangannyapun sudah dibicarakan dan diusulkan. Penulis tidak ingin membahas masalah banjir tersebut selain daripada suatu renungan terhadap kehidupan rohani seorang umat percaya. Ada suatu pertanyaan yang timbul di benak penulis setelah terjadinya peristiwa ini. Bukankah air hujan yang turun, bukankah itu sebenarnya suatu sumber kehidupan? Semua orang mengerti bagaimana air itu dapat mengairi tanah sawah, memberi kehidupan kepada cocok-tanam dan hewan sebagai sumber makanan dan juga, memberi minum kepada manusia. Tak terhitung fungsi guna lain daripada air tersebut. Yang mengherankan adalah bagaimana suatu hal yang baik ini, tercurahkan dalam jumlah yang sungguh tak terukur, dapat terputar untuk menjadi suatu ketidak-baikan? Air hujan yang turun di Jakarta, meskipun lebat, adalah bukan dalam skala banjir di zaman Nuh, yang diturunkan dengan maksud untuk menghukum umat manusia. Pendek kata, suatu berkat menjadi bencana. Penulis bertanya-tanya apakah umat percaya, bilamana menerima suatu berkat yang melimpah jumlahnya dari Tuhan, apakah berkat yang tercurah tersebut akan menjadi kehidupan ataukah itu berputar menjadi suatu bencana yang mematikan di hidup ini? Siapkah kita sekalian menerima berkat dalam jumlah yang tak terbayangkan dan mengolahnya untuk kehidupan kekal? Ataukah, ketika kita menerimanya, kita akan jauh dari Tuhan, bahkan berbalik melawan kuasa-Nya? Sebelum kita memperbincangkan persiapan untuk menerima hujan berkat, perlu dijabarkan terlebih dahulu apa yang penulis maksud dengan berkat. Secara sederhana, berkat adalah semua yang Tuhan janjikan kepada anak-anak Tuhan; ini meliputi kesehatan jiwa raga, kebahagiaan keluarga, kekayaan, budi-pekerti, hikmat marifat, kuasa surgawi dan semua yang baik. Siapkah kita menerima semuanya ini? Atau, apakah kalau ada kesehatan, akankah itu dihancurkan oleh narkotik atau obat terlarang? Kalau ada kekayaan, apakah itu terputar menjadi kerakusan, budi-pekerti dan hikmat menjadi kesombongan, kuasa menjadi gila kuasa dan kebahagiaan keluarga menjadi kemalasan untuk mencari dan melayani Tuhan? Semua berkat ini, bilamana ada ketidak-waspadaan, dapat menjadi bencana. Maka daripada itu, umat percaya bukan saja harus mempunyai iman dan pengharapan akan tercurahnya berkat. Tetapi pada saat yang sama, harus ada persiapan untuk menerima turunnya hujan berkat yang telah diminta dan didoakan secara tekun selama ini. Kalau begitu, apa yang dapat dipersiapkan oleh umat percaya menyambut dicurahkannya berkat yang lebat dan meluber? Salah satu masalah yang diperbincangkan di banjir ibu kota adalah hilangnya penghijauan dan pohon-pohon di hulu sungai yang terletak di pegunungan dan tempat-tempat yang tinggi untuk penyerapan air hujan. Maka daripada itu, pertama, untuk menerima, pelimpahan hujan berkat, umat percaya harus tertanam seperti pohon di tepi aliran air. Bandingkan ini dengan Mazmur 1: 3: Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Mazmur 1 mengajar bahwa seorang yang tertanam seperti pohon, mempunyai karakter-karakter berikut: a) Ayat 1a: "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik," -- Ia mendengarkan nasihat-nasihat Firman Kudus, Roh Kudus dan orang yang benar saja. mendekatkan diri kepada persekutuan orang percaya, menyendengkan telinga kepada Gembala/Pendeta/Pengasuh yang sudah diberikan di atas kita di gereja kita masing-masing. Selanjutnya... Home Artikel |