Kasih Kekal
                                     HEI, Coba Lihat Lebih Dalam
                                                                 
Loren Sartika

Entah mengapa saya jadi sentimental malam ini. Waktu beberapa menit yang lalu sedang mencuci piring, Tuhan ingetin cinta kasihNya. Beneran deh… saya sampai ngga ngerti kenapa Tuhan ingetin pas lagi cuci piring ya? Hehehe…Tuhanku memang so special, lucu dan sukar diterka.

Pagi tadi saya melihat kembali pemandangan yang sama. Maksud saya bukan pemandangan alam lho. Yang saya lihat adalah seorang anak perempuan diantar ayahnya naik motor sampai di kantornya. Kejadiannya saya lihat (selalu) pas si anak turun dari motor ayahnya. Ngga pernah lain, selalu ini yang saya lihat. Sejak pertama kali sampai beberapa kali kemudian dan sampai pagi tadi setelah sekian lama saya tidak lagi pernah melihatnya. Entah mengapa sepertinya ada sesuatu yang bikin hati saya terharu. Dulu saya juga sering diantar dan dijemput oleh papa. (Sekarang ngga lagi mungkin karena sudah bisa setir mobil sendiri atau sudah terlalu tua untuk diantar jemput ? )

Terus… Tuhan ingetin kejadian di hari valentine yang lalu. Saya ditilang polisi. Gara-garanya melanggar garis putih lurus di samping kiri arah keluar tol. Ingat kejadian itu saya jadi kesal lagi. Saya sudah minta maaf tapi polisinya ngga peduli. Ya sudah… saya bilang, “tilang aja.” Hati saya menolak keras untuk berdamai. Wong saya sudah damai kan dengan meminta maaf. Akhirnya itulah kali pertama saya ditilang polisi. Kesal dan lega rasanya. Rasain…memangnya semua orang pasti mau “damai”.

Pulang ke rumah, hati bertanya-tanya. Saya bilang begini, "Tuhan, ini kan hari valentine. Kok malah ditilang sih? Mana kasih sayang-nya?" Tapi Tuhan ngga menjawab apa-apa. Saya laporan sama papa dan beliau nanya kenapa ngga “ damai” aja tadi. Terus terang saya bilang kalau hati saya ngga mau “damai". Surat tilangnya saya berikan kepada papa. (Ternyata saya tetap memerlukan pertolongan dari papa).

Terakhir Tuhan ingetin kejadian kemarin waktu saya beroleh hadiah dari teman baik, pasangan suami-isteri. Saya mendapatkan sebuah handuk dengan nama saya terajut di situ. Entah bagaimana menjelaskan perasaan saya ketika melihat nama saya terpampang diatasnya. Ada perasaan sangat diperhatikan, sesuatu yang bersifat pribadi. Indahnya persis sama dengan ketika saya membaca firman Tuhan yang menuliskan bahwa saya dilukis di telapak tanganNya.

Dari kejadian-kejadian yang Tuhan ingetin itu, saya mendapat pengertian bahwa setiap hal yang kita alami di dalam kehidupan ini adalah seperti saat kita menerima kado. Kita ngga pernah minta kadonya tapi ia datang sendiri tanpa diundang hehehe. Ok deh, kita lanjutkan pembahasannya. Begini…jadi setiap peristiwa atau isi kehidupan kita adalah kado dari Tuhan. Nah, yang namanya kado kan ada bungkusannya. Ada yang bagus banget, cukup bagus bahkan ada yang sangat sederhana. Tetapi..tetap yang terpenting adalah isi-nya. Bener ngga?

Pemandangan yang saya ceritakan diatas, mobil saya yang ditilang dan hadiah yang saya peroleh dari teman baik adalah bungkusan dari kehidupan keseharian saya. Hal-hal tersebut hanyalah bungkus kehidupan. Isi kehidupan itu sendiri adalah kasih setia Tuhan. Tuhan menyatakan kasihNya dibungkus dengan peristiwa yang saya alami dalam kehidupan. Tuhan bilang, “ anakKu, Aku mengasihimu.” Percayalah bahwa Ia sangat mengasihi setiap kita. Jesus Christ loves us! Inilah kebenarannya.


                                                                        
hal. 2

                                                                 Home   Artikel
Home   Artikel