| Kasih Kekal |
| Yonathan -- Memilih Kekekalan (hal. 1) Yonathan adalah salah satu pribadi di dalam Alkitab yang jarang dibahas. Siapakah Yonathan ini? Sekilas, kisah hidup Yonathan adalah sebuah kisah yang tragis dan menyedihkan. Sebagai anak sulung dari Saul, raja Israel pertama, Yonathan adalah ahli waris untuk menjadi raja berikutnya. Dia juga adalah seorang pahlawan yang sangat gagah berani dalam melawan bangsa Filistin (1 Sam.13,14) dan sangat setia kawan. Ini dibuktikan dengan pilihannya untuk menjadi sahabat Daud meskipun dia tahu bahwa Daud dan keturunannya sudah ditentukan untuk menggantikan Saul sebagai Raja Israel. Tetapi, apa yang dia tahu dan lakukan itu, yang dapat dia ajarkan pada kita semua? Yonathan mempunyai sesuatu warisan yang sungguh berharga.; dia akan menjadi seorang raja. Pastilah banyak di antara umat Israel berpendapat, bahwa dia adalah seorang yang patut dikagumi dan dihormati. Bayangkan saja, dia adalah keturunan ningrat, seorang pahlawan perang yang sangat gagah berani untuk mati demi Tuhan dan bangsanya, dan setia kawan. Berdecak-lidahlah banyak orang akan potensi, kepribadian dan wujud anak muda ini. Tetapi, satu kejadian di hidup Yonathan benar-benar menghancurkan hati dan impian pangeran ini. Saul, ayahnya, memutuskan untuk tidak taat kepada Tuhan. Akibatnya, Tuhan melalui Samuel mencabut hak kerajaan Saul dan keturunannya (1 Sam.13:14). Janji Tuhan kepada dinasti ini punah karena ketidak-taatan Saul (1 Sam.15:10-35). Sudah pasti Yonathan mendengar hal tersebut. Dapat dibayangkan betapa kecewa, marah dan pahit hati Yonathan pada saat itu. Pasti dia menangisi hal ini. Hilang sudah semua warisan, hak dan impiannya untuk menjadi pemimpin bangsa Israel. Terlebih lagi ini disebabkan oleh sesuatu yang orang lain perbuat. Sungguh sangat pahit! Sebagai sahabat karib Daud (1 Sam.18:2,3), Yonathan pasti mendengar bahwa a) bangsa Israel sangat mengasihi dan memuja Daud (1 Sam.18:6,7) dan b) Daud diurapi oleh Samuel untuk menjadi Raja Israel berikutnya (1 Sam.16:1-13). Yonathan pasti dapat menyimpulkan bahwa Daud dan keturunannya adalah pilihan Tuhan untuk menggantikan keluarga Saul. Apakah yang Yonathan lakukan? Dia tidak berusaha menghalang-halangi, malah dia mendukung Daud dan keturunannya. Yonatan mengetahui, memilih dengan sungguh amat sadar dan taat akan rencana Tuhan!!! Dia memutuskan ini dengan pengetahuan sepenuh bahwa riwayat keluarganya sendiri akan punah dari sejarah Israel. Apakah hasil ketaatan Yonathan tersebut? Keluar dari keturunan Daud bukan saja Salomo, tetapi YESUS, Raja dari Kerajaan yang dikukuhkan untuk selama-lamanya (1 Taw.17:11-14, Mat. 1:1-17, Luk.3:23-38). Banyak di antara kita juga mengalami sepertia apa yang Yonathan alami. Yonatan mempunyai hak dan warisan; kita mempunyai talenta, modal dan bakat. Dia dihormati; kita punya harga diri. Yonatan pahlawan perang; kita sukses di mata dunia. Tetapi suatu hari anda sadar bahwa semua yang engkau punya di dunia ini tidak kekal dan sia-sia adanya (bacalah kitab Pengkotbah). Bisikan-Nya ke hati penulis, ”Hei anak-Ku, semua yang kamu punya sekarang? Datangnya dari-Ku atau dari hasil jerih payah diri dagingmu? Engkau masih mau terus memilih warisan “Saul” dan hidup melalui kuat dan gagah, atau mengalami janji “Daud”, hidup oleh rancangan sempurna dari Pencipta Agung? Dampak hidupmu, hanya untuk sekejap mata saja atau berpengaruh dari generasi ke generasi?” Seperti Yonatan, marilah belajar untuk memilih Dia yang Kekal. Marilah berdoa untuk mengerti, memilih dan taat kepada rencana-Nya. Bukan saja cukup menerima Yesus sebagai Juru Selamat dan pergi ke gereja. Tetapi lebih lagi, berdoa supaya rencana-Nya terlaksana sepenuhnya dalam hidup kita. Apapun yang harus terjadi, biarlah Dia makin bertambah, diriku makin berkurang! Firman Allah berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,.. (Fil.3:7-8).” selanjutnya (hal. 2) |