Kasih Kekal
                           Salam Dari KASIH KEKAL-Januari 2005 (hal. 1)

Sdr./Sdri. yang terhormat,

     Selamat Tahun Baru 2005. Tak terasa sudah terlewat satu tahun lagi di bawah kasih setiaNya. Kasih Kekal mengucapkan syukur bukan hanya karena satu tahun telah lampau, tetapi juga, oleh kasih karuniaNya situs ini boleh merayakan hari ulang tahun kedua dari permulaannya di Januari 2003. Immanuel. Sampai di sini Tuhan beserta. JHWH Jireh. Dialah yang menyediakan segalaNya.

     Tetapi, satu hal sangat berat di hati penulis pada waktu ini. Kalau kita sekalian melihat kembali ke tahun 2004, hati kita bertanya-tanya mengenai gempa bumi dan badai yang dialami saudara-saudara kita di Nabire, Alor dan yang terakhir, Aceh. Seakan-akan ada sesuatu yang Dia mau sampaikan kepada umat Indonesia. Sangat benar bahwa tsunami ini melanda 11 negara. Tetapi, sudahkah anda perhatikan bahwa hal-hal ini terjadi di ujung Barat (Aceh) dan di ujung Timur (Nabire) dari perbatasan Indonesia? Dan lagi, jumlah korban terbesar dialami di negara kita?

     Benak penulis penuh dengan tanda-tanya. Apa maksudMu, Tuhan? Penulis tidak berani memikirkan bahwa ini adalah murka ataupun amarah-Nya. Tetapi, hati penulis merasa seperti yang tertulis di
Habakuk 3 (silahkan membaca keseluruhannya):

Ayat 6:
“Ia berdiri, maka bumi dibuat-Nya bergoyang; Ia melihat berkeliling, maka bangsa-bangsa dibuat-Nya melompat terkejut, hancur gunung-gunung yang ada sejak purba, merendah bukit-bukit yang berabad-abad; itulah perjalanan-Nya berabad-abad.”

Ayat 8-10:
“Terhadap sungai-sungaikah, ya TUHAN, terhadap sungai-sungaikah murka-Mu bangkit? Atau terhadap lautkah amarah-Mu sehingga Engkau mengendarai kuda dan kereta kemenangan-Mu? Busur-Mu telah Kaubuka, telah Kauisi dengan anak panah. Sela. Engkau membelah bumi menjadi sungai-sungai; melihat Engkau, gunung-gunung gemetar, air bah menderu lalu, samudera raya memperdengarkan suaranya dan mengangkat tangannya.”

Ayat 15-16a:
“Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak laut, timbunan air yang membuih. Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri;...”

    
Bolehkah penulis berkata bahwa dengan kejadian ini kita sekalian terkesima dan takut akan kedahsyatan-Nya? Bagaimanapun juga, hati kita masih bertanya-tanya; apakah pesan-Nya? Bahkan, beberapa berkata, “Hidup kami sendiri penuh dengan pergolakan, perseteruan, himpitan, serangan dan godaan. Kami tidak mempunyai daya lagi. Kami merasa sangat lemah!! Bukannya kami egois dan tak peduli; tetapi, bagaimana kami masih dapat mempunyai kekuatan untuk bersimpati?”

     Saudara-saudari , marilah kembali ke suatu bisikan sederhana,”Apa perintahMu kepada kami, TUHAN?”

Dikatakan di
Habakuk 3:2
“TUHAN, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya TUHAN, kutakuti! Hidupkanlah itu dalam lintasan tahun, nyatakanlah itu dalam lintasan tahun; dalam murka ingatlah akan kasih sayang!
(red: garis bawah tambahan penulis)

                                                              
selanjutnya (hal. 2)
Home   Artikel
Home   Artikel