November 01, 2005
Hening Kasih Kekal-November 2005- Dipelihara Sebagai Biji Mata Tuhan
Marilah mendengarkan:
Hening Kasih Kekal, November 1, 2005 [10.5 min./.mp3/1.2 MB] - Dipelihara Sebagai Biji Mata Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati.
Hak cipta/Copyright (c) Kasih Kekal www.kasihkekal.org 2005. All rights reserved.
Teks:
Apa kabar, sdr-sdri yth.? Saya, Jonathan Tunggal, menyampaikan salam sejahtera untuk anda sekalian. Terima kasih kalau anda boleh sekali lagi bergabung di acara ini, Hening Kasih Kekal untuk episode bulan November 2005. Saya percaya bahwa Tuhan Yesus telah dan sedang memberkati anda sekalian dengan RahmatNya yang tak terukur.
Sdr-sdri, hari-hari ini saya pribadi diingatkan oleh Tuhan untuk terus bersikap tulus dan lurus dalam segala hal. Kalau tiba-tiba Ia mengingatkan hal seperti ini, hati ini agak tersentak. Apa maksud peringatan ini? Apakah ada hal-hal di dalam hidup ini yang tidak benar, yang mungkin, secara sedikit demi sedikit, melenceng keluar dari jalanNya? Bahkan, apakah ada kemunafikan dalam hidupku? Mengkuatirkan juga kalau mendapatkan peringatan seperti ini.
Mungkin ada pertanyaan, bagaimana asal-muasal peringatan ini? Ini bermula dari satu ayat singkat yang saya dapatkan di Mazmur 17: 8a. Mari kita baca ayat ini, Mazmur 17:8a:
Peliharalah aku seperti biji mata, ..
Sdr-sdri, siapa yang tidak mau menjadi biji mata Tuhan? Pasti semua mau! Kalau kita hari ini boleh mengaku Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka karena ini kita mendapatkan hak waris sebagai anak-anak Tuhan dan boleh dengan segera masuk mendapatkan janji-janji Tuhan. Oh terpujilah Nama Tuhan!
Tetapi ayat ini mengajar, bukan saja menjadi anak Tuhan, tetapi adalah suatu yang luar biasa menjadi biji mata Tuhan. Saya tidak tahu apakah ada anak Tuhan yang bukan biji mata Tuhan. Yang penting bagi saya dan anda sekalian, apakah kita ini biji mata Tuhan? Maksudnya bagaimana? Biji mata Tuhan adalah anak Tuhan yang mendapatkan fasilitas khusus dari Tuhan. Berarti, apakah Tuhan main pilih kasih? Sdr-sdri, saya tidak tahu mengenai ini. Tetapi adalah suatu hak Tuhan kalau Dia mau memberi fasilitas-fasilitasNya, KaruniaNya, berkat yang tersendiri dan sebagainya kepada orang-orang tertentu.
Tetapi yang saya tahu adalah sebagaimana berikut. Daud berseru agar dia dipelihara sebagai biji mata Tuhan. Seruan “dipelihara” menunjukkan bahwa ada kemungkinan bahwa seseorang bisa keluar dari garis batas tertentu; kalau ia tidak dalam garis batas ini maka tentunya ia tidak menjadi biji mata Tuhan. Daud berseru “Peliharalah aku seperti biji mata,...”! Ini luar biasa. Ia sangat peduli akan keberadaannya di hadapan Tuhan. Ia mengerti bahwa seorang yang dipelihara seperti biji mata, mendapatkan suatu berkat tersendiri.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita peduli akan keberadaan kita di hadapanNya? Ataukah kita seenaknya sendiri dengan apa yang Ia anugrahkan kepada kita? Sdr-sdri, saya berpendapat bahwa kita harus berusaha dengan pertolongan Roh Kudus, supaya keberadaan kita layak dan benar. Apakah hal-hal ini? Mari kita lihat hidup Daud. Di Mazmur fatsal yang sama, fatsal 17: ayat 1 dan 3. Mari kita baca:
Ayat 1. Doa Daud. Dengarkanlah, TUHAN, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu.
Ayat 3. Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur.
Sdr-sdri, Daud dengan berani dan tegas menyatakan bahwa bibirnya tidak menipu dan bilamana ia diuji dan diselidiki, tidak akan ditemui kejahatan. Pendek kata, tidak ada kepalsuan dan hidupnya tulus dan lurus. Boleh dikata, sangat nekat ia berbicara seperti ini di hadapan Tuhan. Tetapi, nyatanya Tuhan berkenan.
Ini adalah asal muasal dari peringatan yang Tuhan sampaikan kepada saya pribadi. Jadi, bagaimana dengan hidup kita? Sudah lurus dan tulus? Pasti ada ketidak-sempurnaan. Terkadang, bahkan sering kali kita jatuh, tetapi apakah sudah ada fokus dan sikap yang kita ambil untuk mengarah ke sana? Bilamana sudah, apakah terus berdoa seperti Daud, supaya terus diri ini DIPELIHARA, agar supaya jangan keluar dari batas batas yang Tuhan berikan?
Kemudian, hal apakah lagi yang Daud selalu lakukan? Saya belajar bahwa dia selalu memuji dan menyembah Tuhan. Ini sudah bukan rahasia lagi. Baca saja kita Mazmur. Dan kita semua sadari bahwa kita perlu mempunyai kehidupan yang terus-menerus menyembah Tuhan, baik melalui mulut atau tindak-tanduk kita. Tetapi, kalau kita mau jujur, kalau pengertian akan hati yang menyembah sudah dicanangkan dan diajarkan di mana-mana, apakah kita sudah memuji dan menyembah Dia seperti Daud? Atau pengertian ini hanyalah sekedar pengetahuan? Saya percaya bahwa kehidupan yang terus memuji dan menyembah ada di hidup biji mata Tuhan.
Hal yang ketiga di hidup Daud adalah ia adalah pribadi yang suka mengampuni. Ia tidak membunuh Saul pada waktu kesempatan itu diberikan dan ia bahkan menangisi kematian Absalom, si anak yang mengkhianatinya. Dan ia adalah sosok yang dengan segera minta ampun kalau menyadari akan dosa-dosanya. Hati yang penuh penyesalan ia sampaikan kepada Tuhan setelah ia mengambil Bethseba sebagai istrinya dan juga, ketika, karena kesombongannya, ia menghitung jumlah orang Israel dan Yehuda. Sdr-sdri, pribadi yang suka mengampuni dan juga, yang dengan segera menyesali dosa-dosanya, ada di hidup Daud, seorang yang diperlakukan seperti biji mata Tuhan.
Yang terakhir yang saya lihat, ialah Daud tidak pernah sekalipun, bahkan tidak pernah disebut, memberi muka dan kesempatan akan praktek dan sikap penyembahan berhala di hidupnya. Tidak ada tradisi, patung, figur, sosok, ikatan apapun yang berkaitan dengan penyembahan berhala di hidupnya. Bagaimana dengan kita sekalian? Apakah kita masih menoleransi hal-hal ini? Mungkin saja kita tidak menyadarinya dan buta akan hal-hal tertentu yang Tuhan tidak senang. Maka daripada itu, marilah kita meminta Tuhan agar supaya membuka mata kita dan membebaskan kita, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, dari segala ikatan si jahat yang masih membelenggu kehidupan kita ini.
Sdr-Sdri, di hidup Daud ada pertama, hati yang lurus dan tulus, kedua, kehidupan yang memuji dan menyembah Tuhan tanpa hentinya, ketiga, hati yang suka mengampuni dan penuh penyesalan ketika menyadari dosa-dosanya, dan terakhir, sikap yang tidak memberi kesempatan kepada aspek-aspek penyembahan berhala. Keempat hal inilah yang mendasari kehidupan Daud, seorang yang dipelihara seperti biji mata Tuhan.
Sdr-sdri, Dengan ini saya mengakhiri Hening Kasih Kekal, episode November 2005. Tetapi sebelum saya akhiri, marilah kita berlari terus, belajar dari raja Daud, dan oleh karenanya, boleh mendapatkan berkat karunia yang luar biasa dari Bapa kita yang di Surga. Dan saya percaya kita akan dipelihara sebagai biji-mata Tuhan. Terpujilah namaNya yang kekal!
Hak cipta/Copyright (c) Kasih Kekal www.kasihkekal.org 2005. All rights reserved.






