Soli Deo Gloria

April 02, 2006

Kulemparkan Roti ke dalam Air Hidup


[dicuplik dari kolom 30 Maret 2006 Jurnal Kasih Kekal jurnal.kasihkekal.org]


Pengkhotbah 11: 1


Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.

Saya baru saja membaca sebuah jurnal harian dari seseorang anak muda yang baru saja pulang dari ladang penginjilan di Mozambique, sebuah negara di Afrika bagian Selatan. Ceritanya dan apa yang ia rasakan terasa begitu mirip dengan apa yang saya rasakan di tahun 2001 ketika pulang dari tempat yang sama (Iris Ministry). Pada waktu itu, pulang kembali ke kota kediamanku, hatiku begitu hancur dan sedih. Tidur tidak nyenyak, setiap hal yang kulakukan serasa demikian menjemukan dan tiada arti. Setiap orang yang kutemui, bahkan anak-anak Tuhan, begitu menyebalkan adanya. Sering saya mendapatkan diri ini, minum di sebuah kedai kopi, keren kelihatannya, tetapi hati ini menjerit kepada-Nya. Malam menjadi kawanku, siang terasa terlalu lama.

Hati itu bertanya-tanya bilamana saya akan mendapatkan kehormatan lagi untuk melayani Dia di kalangan yang miskin dan tertolak. "Mengapa aku harus di sini, Tuhan? Mengapa Engkau meminta aku untuk pulang? Aku tahu aku tidak sebanding dengan pahlawan-pahlawanMu yang aku sempat temui di sana. Mereka begitu gagah perkasa dalam-Mu. Muda dan tua, laki-laki dan perempuan, tetapi mereka seperti singa-singa muda, mencabik-cabik dan menghancurkan pekerjaan si jahat. Dan Engkau izinkan aku untuk berperang bersama mereka. Apakah sekarang aku tidak layak? Apakah aku gagal? Memang aku penuh keterbatasan, tetapi mengapa aku di sini? Aku mengasihi-Mu, apakah itu tidak cukup?"

Mengapa saya menceritakan hal yang terlalu pribadi ini? Beberapa tahun sudah lewat dan saya belum mendapatkan kesempatan lagi untuk kembali mengunjungi Mozambique ataupun ladang misi lainnya. Apakah aku tetap sedih? Apakah aku tetap kecewa? O tidak. Hati yang hancur, lambat-laun Ia pulihkan. Time does not heal. Waktu tidak menyembuhkan. Hanya Tuhan Yesus sajalah Penyembuh sejati. Puji Nama-Nya. Hidupku telah dibawa olehNya sekarang demikian jauh dari ladang Tuhan di Afrika. Tetapi puji nama Tuhan, Roh Kudus menuntun supaya saya tetap setia di dalam segala apapun yang Ia perintahkan. Dan ketaatan, dan bukan pengorbanan, bukankah itu yang Ia minta?

Hanya puji syukur yang ada di dalamku. Tak ada penyesalan lagi, tetapi melainkan puji syukur dan kebahagiaan karena Ia kuatkanku untuk tetap setia. Pelayanan-ku sekarang, visi dan misi yang Kekasih-ku berikan kepadaku, mungkin kelihatannya demikian sungguh berbeda. Tetapi saya mengerti, semua sekarang ini tidak kalah pentingnya, bahkan lebih penting, karena inilah yang Dambaan Hatiku mau di hidupku.

Pagi hari ini saya membaca Pengkhotbah 11:1. Tuhan, aku telah melemparkan hidupku di dalam Engkau, Air Hidup. Ampuni aku kalau aku pernah berfikir bahwa roti yang dilemparkan hanyut terhilang dalam kekecewaan dan kegagalan. Tetapi, aku mengucap syukur kalau aku mulai melihat bahwa hidup yang terhisap dalam arus Kasih-Mu, boleh kembali. Halleluya! Dengan penuh iman dan pengharapan aku mau terus melemparkan roti ini, Tuhan, ke dalam debur jeram kasih sayang-Mu, dan aku tahu Kasih-Mu akan membawa itu kembali, berbuah, berbuah dan berbuah lagi, seribu kali lipat bahkan tanpa terukur batasnya! Terpujilah Dia yang bersemayam di bait kudusNya!

Ayat-ayat dikutib dari Alkitab Terjemahan Baru (c) Lembaga Alkitab Indonesia, 1974.
Copyright/Hak Cipta © 2005 Kasih Kekal www.kasihkekal.org

This page is powered by Blogger. Isn't yours?