Soli Deo Gloria

December 01, 2006

Batu di Jalanan DipungutNya, Dijadikan Perhiasan Bagi KemuliaanNya

Dikutip dengan seizin Pondok Hayat. Hak Cipta (c) 2006 Pondok Hayat www.pondokhayat.org Dilarang keras untuk mengutip dan mengedarkan kesaksian ini dalam bentuk apapun tanpa seizin Pelayanan Pondok Hayat

Tidak pernah terlintas di pikiran saya, kalau saya harus mengalami hal yang sangat menyakitkan dalam hidup saya. Saya sudah dewasa, merasa gagal segala-galanya semenjak saya tahu bahwa saya hamil (usia kehamilan sudah 5 bulan). Semula saya langsung punya pikiran untuk menggugurkannya, saya minum pil-pil terlambat bulan dan macam-macam tapi semua itu tidak menghasilkan apa-apa.

Saya bingung dan harus bagaimana, lari pada siapa, ayah dari bayi yang saya kandungpun tidak mau peduli dengan keadaan saya, tapi dia sempat memberikan brosur mengenai Pondok Hayat. Setelah saya membacanya, kemudian saya mengambil keputusan untuk tinggal di Rumah Singgah ‘Graha Pondok Hayat”. Saya merasa aman, dan di Pondok Hayat saya tak pernah kurang suatu apapun. Disana pula banyak pengajar-pengajar, yang bagi saya, memberi kekuatan agar saya bisa menerima kenyataan yang ada. Saya berdoa dan mohon ampun pada Tuhan atas semua dosa-dosa saya, terlebih juga untuk apa yang saya akan lakukan dan usaha saya untuk menggugurkan (baca: membunuh bayi saya).

Hari berganti hari saya lalui, dan sampailah pada perjuangan untuk bisa melahirkan anak saya dengan selamat. Kasih Tuhan sangat besar bagi saya. Pada saat saya melahirkan saya merasakan Tuhan bersama dengan saya. Tuhan sungguh mengurangkan rasa sakit yang harus saya alami, sampai kemudian semua berjalan baik (Ratapan 3:58).

Setelah melahirkan, saya mengalami sebuah pergumulan lagi, karena saya dihadapkan pada 2 pilihan yaitu mengambil (memelihara) anak saya atau saya serahkan pada Pondok Hayat.

Melalui pergumulan bersama Tuhan, pada akhirnya saya memilih untuk menyerahkan anak saya pada Pondok Hayat, walaupun terus terang saat itu hati saya sangat hancur karena saya harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga, dia-lah bayi yang pernah saya akan bunuh, tetapi oleh pertolongan Tuhan dia selamat! Tapi saya lebih memikirkan nasib anak saya daripada kepedihan hati saya, saya berusaha tidak egois! Anak saya punya masa depan-nya! Yang lebih baik kalau diasuh oleh orang tua yang lengkap (ayah&ibu), dan saya yakin pengurus Pondok Hayat akan memilihkan bagi anak saya orang yang tepat! Saya rela demi kebahagiaannya.

Waktu terus berlalu dan pimpinan Tuhan tidak pernah berhenti, ada maksud yang indah di balik kepahitan yang saya alami, Tuhan berkehendak saya untuk tetap tinggal di Pondok Hayat membantu pekerjaan Tuhan disana. Sungguh saya bersyukur kalau akhirnya saya boleh terlibat dalam pekerjaan Tuhan yang besar ini. Di Pondok Hayat saya belajar banyak hal, dan yang terpenting adalah tentang “mencintai sebuah kehidupan”. Tuhan memimpin, sekarang saya mulai membentuk vocal group Pondok Hayat. Semua berkat dorongan dan nasehat seorang guru psikologi supaya saya semakin maju (menata kehidupan kembali, memberi hidup ini buat Dia). Dengan karunia-karunia yang Tuhan berikan, Tuhan ingin saya mengembangkan talenta yang Ia berikan, puji Tuhan sampai hari ini Dia menyertai, semua karena kasih Tuhan Yesus.

Untuk pertama kalinya vokal group ini tampil, memuliakan Dia di GBT Perak, lalu dalam pelayanan ke Kraksaan, kemudian di GKI Diponegoro, dan GKPB MDC. Saya yakin Tuhan akan semakin berkarya lebih lagi dalam hidup saya. Kuncinya : Buang segala kepahitan, perlu pemulihan dari Tuhan sendiri, baru Dia mengerjakan sesuatu. (Filipi 3:13b-14). Saya tahu, Tuhan telah memungut batu di jalanan dan memolesnya dengan seksama untuk dijadikan perhiasan bagi kemuliaanNya. Puji Tuhan.

R.

Dikutip dengan seizin Pondok Hayat. Hak Cipta (c) 2006 Pondok Hayat www.pondokhayat.org Dilarang keras untuk mengutip dan mengedarkan kesaksian ini dalam bentuk apapun tanpa seizin Pelayanan Pondok Hayat

This page is powered by Blogger. Isn't yours?